Minggu, 25 Mei 2008

Dendamku padamu "Patin"

Ada sebuah pepatah mengatakan hanya orang bodoh yang jatuh ke lubang yang sama dua kali, tapi aku nggak peduli . Selama belum kutemukan cara tepat memancing ikan patin, kekalahan terus akan terbayang dalam benakku.


Jum'at malam 08.00, telah kupersiapkan senjata untuk mengalahkan "si patin". Malam itu tak tanggung-tanggung telah kupersiapkan empat macam umpan, "pur + tempe busuk", "pur + kecap ABC", "Pur + Trasi", dan "Pur tanpa campuran". Joran, pancing, dan detail lainnya telah siap .
Sabtu pagi 06.30, semangat juang telah mencapai puncak. "Selamat berjuang mas bagijo", kata istriku tercinta. Terompet dan genderang perang telah ditabuh anak-anakku. Heal...heal...heal....teriak mereka. Dengan sepeda perang "Honda Supra keluaran 1998" sang pejuang menuju medan laga, kolam pancing di desa PAGAK , sebelah barat desa Banjardowo Jombang.

Seperti biasa, ikan-ikan patin ber jempalitan menciptakan suara gemuruh ditengah kolam. Tingkah lakunya seolah memberikan harapan besar untuk dapat dipancing. Aku sudah tak heran lagi. Lemparan kailku yang pertama telah jatuh tepat ditengah kolam. Resep umpan pertama kucoba "Pur + Trasi"; kata orang umpan tersebut siiip. Dan memang siiip benar, 20 menit pertama umpanku "tidak dilirik sedikitpun". Ah... ndak apa, ada resep kedua "pur + tempe busuk", hasilnya sama saja 30 menit berlalu tanpa hasil. Dan begitu seterusnya... Oh God...ini ikan apa ndak punya rasa lapar apa !!!!. 180 menitku telah berlalu.

Hari ini aku telah kalah lagi, maafkan aku istriku tercinta, anak-anakku, ayahmu hari ini kalah lagi, tapi yakinlah semangat juang ini terus menyala dan semakin berkobar. Selama matahari terbit dari timur, kau tetap Indonesiaku (kata cak Gombloh). Selama patin belum didapan kau tetap dendamku.

2 komentar:

Poci Craft mengatakan...

Wah ini di semangat anak bangsa yang masih menyala.....viva cak bagijo, selamat berjuang, raih kemenangan dengan segera

Anonim mengatakan...

Maju terus Cak Bagijo, saya dukung sampeyan hehehe..